Home / Artikel / Artikel Pengalaman Menjadi Guru Oleh Yahudin Ishak, M.TPd

Artikel Pengalaman Menjadi Guru Oleh Yahudin Ishak, M.TPd

Saya mencoba menulis sekelumit pengalaman ketika dulu mulai merintis jalan untuk menjadi guru yang sesungguhnya. Jalan yang saya lalui tidak seperti guru yang lain. Berjuang dari titik nol di sebuah sekolah swasta dan tidak dilengkapi dengan ilmu keguruan yang cukup. 

 

Rupanya Allah telah mengarahkan jalan hidup saya untuk menjadi guru. Saya sukuri, lalu saya jadikan guru sebagai sebuah pilihan bukan keterpaksaan. Mengajar adalah hobi saya dan berada di kelas adalah sebuah kesenangan. Jangankan mengajar melihat siswa berseragam sekolah  saja saya sudah senang. Mungkin itu pula sebabnya saya dilahirkan pada tanggal 25 November bertepatan  dengan hari guru nasional.    

 

Keikutsertaan saya dalam lomba ini  sebagai bentuk dukungan saya terhadap kegiatan yang diselenggarakan oleh PGRI Provinsi Bengkulu. Bukan untuk mencari popularitas  tapi semata-mata untuk berbagi cerita dan pengalaman.

Sekelumit Pengalaman

(Ditulis oleh : Yahudin Ishak, M. TPd  (Guru SMK Negeri 1 Kota Bengkulu)

Setamat SMK tahun 1983 saya langsung kuliah di sebuah perguruan tinggi di kota Bengkulu. Belum genap setahun kuliah, saya mendapatkan tawaran untuk menjadi tenaga administrasi di sebuah sekolah swasta di Kabupaten Bengkulu Utara. Tanpa banyak pertimbangan saya menerima tawaran tersebut. Berangkatlah saya ke Argamakmur ibu kota kabupaten Bengkulu Utara. Kondisi Argamakmur waktu itu masih tertinggal. Jumlah penduduk masih sedikit, rumah masih jarang, babi hutan masih  berkeliaran, dan aktivitas perkantoran masih sepi.

Saya ditugaskan di sebuah SMK swasta yang kala itu berstatus filial. Tiga bulan  pertama bertugas saya masih mengurus masalah administrasi sekolah. Bulan  berikutnya saya diminta oleh kepala sekolah untuk mengajar karena sekolah tersebut kekurangan guru. Saya menerima saja tawaran itu, tanpa harus memikirkan ada honor atau tidak, apalagi harus memikirkan status saya yang baru tamat SMK harus mengajar di SMK.

Pertama kali mengajar saya diberi pelajaran Matematika. Terpikir oleh saya bahwa Matematika umumnya tidak disenangi oleh siswa. Langkah pertama yang saya ambil adalah membuat siswa senang dengan Matematika. Mulailah saya mengajar pada kelas yang ditentukan oleh sekolah. Saya mulai mengingat-ingat gaya guru mengajar ketika di SMP dan SMK.  Kebetulan pelajaran Matematika adalah pelajaran favorit saya dan guru yang mengajarnya sangat saya senangi.

Setelah beberapa bulan mengajar saya mulai mendapat apresiasi dari para siswa. Kalau saya agak sedikit terlambat datang ke kelas karena masih mengurus administrasi sekolah, maka para siswa datang menjemput  untuk mengajar di kelas mereka. Hal itu saya nilai siswa mulai senang belajar Matematika. Pada diri saya mulai timbul  motivasi  untuk menjadi guru sungguhan.  Karena saya sadar bahwa saya kala itu belum layak disebut guru.

Tanpa terasa tahun ajaran berganti. Status saya semakin tidak jelas, apakah tenaga administrasi atau guru.  Jam mengajar mulai bertambah dan pelajaran yang diajar pun bertambah pula. Tahun ajaran baru saya mendapat tambahan jam untuk pelajaran bahasa Inggris. Pelajaran yang ditakuti oleh para siswa. Sama halnya dengan pelajaran Matematika, pelajaran bahasa Inggris ketika di SMP dan SMK sangat saya senangi. Kembali saya harus mengingat gaya dan cara guru bahasa Inggris mengajar  dan metode yang sering digunakan.

Waktu terus berjalan, sekolah  masih berstatus filial. Tidak tahu apa sebabnya sekolah  harus pindah lokasi. Dari gedung Dharma Wanita di jalan RA. Kartini ke gedung SD bantuan Belanda di Desa Sumbersari. Di lokasi yang baru keadaannya bukan menjadi lebih baik tapi tambah sulit dijangkau. Jalan ke sekolah banyak yang rusak, lebih-lebih jalan setapak menuju sekolah masih tanah kuning dan sedikit terjal.

Tanpa ada protes dari para siswa, semua sepakat untuk pindah dan  menempati gedung SD bantuan Belanda tersebut. Awal kepindahan ke Sumbersari terasa sangat berat dan sulit. Di samping lokasinya agak keluar kota, kondisi jalan naik turun dan tidak ada kendaraan umum ke sana. Saya dan siswa setiap hari berjalan kaki ke sekolah. Jalan yang kami lalui tidak hanya jalan raya, tapi ada kalanya kami harus melewati pematang sawah dan kebun kopi  agar cepat sampai ke sekolah.

Pada bulan pertama belajar di Sumbersari, banyak siswa mengalami kesurupan. Hal itu mungkin dikarenakan di sekitar sekolah banyak kuburan warga. Menurut penduduk sekitar salah satu alasan  mengapa gedung SD itu tidak digunakan atau ditempati, karena lokasi tersebut dianggap  angker dan banyak penunggunya.

Masih dalam suasana baru pindah, para siswa meminta untuk mengadakan kegiatan perkemahan dan menginap di sekolah.   Salah satu  agenda perkemahan  adalah membersihkan semak-semak di bagian depan sekolah.  Apa  yang  terjadi  kemudian? Hampir semua siswa mengalami kesurupan dan sulit disadarkan. Dengan penerangan seadanya masyarakat sekitar membantu menyadarkan para siswa dan akhirnya kegiatan perkemahan dibubarkan  menjelang tengah malam.

Sebagai tenaga administrasi dan guru honorer kala itu, penghasilan yang didapat dari   sekolah   tidak  seberapa.  Dan pembayarannya pun kadang dua bulan sekali. Dengan  honor  seadanya  itu  saya   mencoba  bertahan dan memilih tinggal di tempat keluarga di sekitar  Bundaran  Argamakmur.  Jarak  antara Bundaran dengan sekolah di Sumbersari lumayan jauh  apalagi harus dtempuh dengan berjalan kaki setiap hari. Rutinitas itu pula yang menyebabkan tumit sepatu cepat habis dan rusak.

Hari-hari berlalu, hubungan saya dengan para siswa pejalan kaki semakin akrab. Mereka sering menceritakan kesulitan hidup selama dalam perjalanan menuju sekolah atau sebaliknya. Para siswa tersebut pada umumnya berasal dari daerah sekitar Argamakmur seperti Lais, Ketahun, Kerkap, Lubuk Durian, Kurotidur,  dan ada juga dari Ipuh dan Mukomuko. Mendengar cerita mereka saya sering terenyuh, walau sebenarnya keadaan saya tidak jauh berbeda dengan keadaan mereka.

Untuk berbagi cerita, pengalaman, dan penderitaan kami sering berkumpul di tempat saya.  Kadang sore hari sebelum latihan voli dan ada kalanya sehabis isya. Berkumpul seperti itu akan mengurangi beban yang sedang kami rasakan. Apalagi cerita-cerita mereka sering lucu dan ada juga yang haru. Saat berkumpul itu pula saya sering menyisipkan pesan agar mereka tetap bersekolah, membekali diri dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan.

Suatu hari saya mulai berubah pikiran untuk meninggalkan Argamakmur dan kembali kuliah di Bengkulu seperti dulu. Bekerja sebagai tenaga administrasi tidak ada jaminan untuk diangkat, apalagi menjadi guru honorer jadi-jadian tidak akan ada ujungnya. Saya coba evaluasi jalan hidup yang sudah saya lalui agar tidak tersesat di kemudian hari.  Lalu berdoa dan meminta petunjuk dari Allah,  agar diberikan jalan terbaik untuk masa depan saya.

Tidak  lama kemudian, Emak (Ibu saya) datang ke Argamakmur.  Beliau  sempat menangis di atas tempat tidur saya yang beralaskan bilah bambu dan tikar seadanya.  Mungkin beliau kasihan melihat keadaan saya waktu itu.   Lalu  saya mohon izin dan minta doa beliau agar bisa kuliah lagi. Ibarat gayung bersambut, beberapa bulan kemudian saya  mendapat panggilan untuk mengikuti tugas belajar di  Jakarta  atas  biaya pemerintah. Keberangkatan saya ke Jakarta saya nilai sebagai sebuah penghargaan atas prestasi yang saya raih ketika di SMK dulu. Tentu skenario Allah di atas segala-galanya.

Saya pun berangkat sebagai utusan kabupaten Bengkulu  Utara.  Waktu   berjalan  begitu cepat. Tahun  1988   kuliah saya  selesai dan saya kembali ke Argamakmur dan mengajar di sekolah yang dulu saya tinggalkan. Selama  rentang waktu tiga tahun itu kondisi  sekolah di Sumbersari hampir tidak ada perubahan. Kecuali status sekolah sudah berubah menjadi sekolah negeri.  Jumlah guru dan tenaga administrasi juga sudah bertambah banyak.

Tahun ajaran 1990/1991 lokasi sekolah pindah lagi ke Desa Taba Tembilang menempati gedung baru yang  dibangun  oleh  Pemerintah  melalui dana bantuan Voced  II.  Suasana mulai berubah, gedung baru dan semua peralatan serba baru. Jumlah siswa pun  bertambah banyak.  Tidak jauh berbeda dengan gedung sekolah di Sumbersari, gedung baru pun tidak kalah angkernya dan terkesan lebih kasar. Kesurupan  hampir terjadi setiap hari.  Baik di sekolah maupun di rumah ketika para siswa sudah pulang sekolah.

Yang sulit saya lupakan adalah ketika ada siswa (perempuan) yang kesurupan masuk ke ruang kepala sekolah dan duduk layaknya seorang tamu. Sambil menunjuk kepala sekolah, dengan lantang dia berkata, “kalian semua kurang ajar telah mengganggu tempat tinggal kami.”   Saya memberanikan diri untuk bertanya. “Dimana tempat tinggalmu?”  Lalu dia jawab, “kuburanku ada di bawah tiang  bendera.” Kemudian dia menunjuk beberapa sudut sekolah lengkap dengan nama penunggunya. Saya bertanya lagi, “apa permintaan kalian agar siswa kami tidak diganggu?” Dia minta kepala sapi dan kambing untuk ditanamkan pada tempat yang dia tentukan. Tak lama kemudian siswa tersebut sadar dengan sendirinya dan merasa malu sudah berada di ruang kepala sekolah.

Tahun 1993 saya kembali dipanggil untuk meneruskan kuliah di Jakarta dan selesai pada tahun 1995. Setelah selesai pendidikan saya kembali bertugas di Argamakmur, berkumpul dengan teman-teman lama. Di tengah konsentrasi pada tugas  saya mencoba mengingat-ingat perjalanan awal berdirinya sekolah dan liku-liku yang dilalui.  Ada kepuasan yang saya rasakan,  bahwa sekolah yang dulu filial sudah menjadi negeri, dulu kecil sekarang sudah besar, dulu tidak ada guru sekarang guru sudah lengkap. Oleh karena itu saya berkesimpulan untuk pindah tugas. Untuk mencari suasana baru, semangat kerja baru, lingkungan dan pergaulan yang lebih kompetitif. Pada tahun 1999 saya pindah ke SMK Negeri 1 Kota Bengkulu.

 

About @dminSMKN1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *